Minggu, 14 Juli 2013

MATAHARI TERBIT UNTUK ALIANA

Aku sangat menyayangi  Aliana, semua yang kulakukan demi aliana, aku ngak bisa hidapi tanpa aliana, untuk aliana aku rela ngelakuin segalanya, hanya aliana satu – satunya cewe yang aku puja, danku damba, dia segalanya bagiku, tiada yang lain di hatiku selain aliana.
Aku akan membuktikan kepada aliana besarnya cintaku padanya, Akan ku berikan untuknya matahari terbit yang sangat di sukainya. Setiap pagi dia selalu menuju pantai atau bukit hanya untuk sekedar menikmati matahari terbit, aku sering menjumpainya ketika dia duduk manis di atas batu di puncak bukit sambil menikmati indahnya matahari terbit. Jadi aku berjanji padanya bahwa aku kan berikan matahari terbit untuknya, agar dia tak susuh payah naik turun bukit ataupun lari ke pantai untuk menikmatinya.
Akupun menghampiri aliana  yang sedang menikmati indahnya matahri terbit.
“ Beib….boleh aku temenin? Indah juga ya ,menikmati matahari terbit disini, menurutmu hal  apa yang paling indah untukmu?”
“Iya… sini say… itu yang paling indah tapi, kayanya lebih indah lagi kalo kita duduk berdua menatanya, bagiku sesuatu yang indah adalah matahari terbit, karena dia mampu beriku senyuman di setiap pagi, tapi yang paling indah lagi bila aku menikmatinya bersamamu disini. Tapi sayang sekali  dia jauh sekali di sana aku ingin memilikinya” aliana pun  mendekap erat tanganku, di letakkan  kepalanya pada pundakku, sambil menatap matahri terbit.
“Beiib……  aku sangat menyayangimu, aku selalu ingin bersamamu, akan kulakukan semua inginmu, aku berjanji padamu bahwa aku kan berikan matahari terbit itu padamu, aku kan memburunya dan kan ku berikan padamu, aku janji padamu beiib!’’ 
“Tapi say…. Aku tahu kau sangat menyayangiku, aku takut terjadi apa-apa ketika kau membutu matahari terbit itu, cukup kita nikmati disini saja”
“Iya aku tahu….ini tidak mudah untuk memburu matahari terbit itu, tapi aku tak rela bila kau harus naik turun bukit, berlari ke pantai hanya untuk menikmati itu, akan ku bawa matahari terbit itu kerumahmu agar kita bisa nikmati bersama setiap saat, tanpa harus datang ke tempat ini ataupun kepantai” akupun menggengam kedua tangan aliana sambil menunjuk pada matahari terbit.
“Tapi say……….”
“Sudah percayalah padaku aku kan bawain pulang matahahari terbit itu untukmu” akupun mendekap erat tubuh aliana..
“Hati-hati ya say…”alianapu mencium keningku
Dengan semangat cinta yang di berikan aliana untukku, akupun mempersiapkan diri untuk memburu matahari terbit yang ku janjikan pada aliana.
Safana ku jelajahi, hutan ku lalui, lelah batinku tapi tidak untuk jiwaku, jiwaku masih menggebu-gebu untuk memburu matahari terabit untuk aliana, dalam perjalan pemburuan di tengah hutan aku menemukan satu desa, disini aku bertanya pada seorang warga yang baru pulang dengan membawa cangkul di pundaknya.
“Permisi pak…. sapaku pada kakek itu, 
"Aku sedang mecari matahari terbit, yang selalu ku lihat di kaki bukit dan di tepi pantai, apakah bapak tahu di mana itu” akupun bertanya pada seorang pak tua yang membawa cangkul
“iya saya tahu…., kamu terus berjalan saja ke arah timur di puncak gunung sembrono , di puncak sana dia selalu keluar. 
             Dengan sedikit kaget pak tuapun menjawab petanyaan dariku.
“oh… trimakasih pak…. Jadi di atas puncak gunung sembono, kira – kira berapa hari pak saya bisa sampai di puncak sana”
“Ya sekitar dua hari perjalanan kamu kan sampai di sana, lebih baik kamu istirahat dulu di rumah bapak, nanti kamu bisa lanjutkan perjalanan besok pagi”
“Oh.. tidak terimaksih pak saya ngak mau ngerepotin bapak!!!” akupun menolak ajakan pak tua.
“Sudah ngak apa-apa lagian hari sudah mulai gelap, lebih baik kau istirahat dulu di rumah bapak tidak jauh dari sini kok!! ” pak tuapun mencoba  mengajak aku untuk menginap dirumahnya.
Akupun menerima ajakan dari pak tua itu, dalam pikirku “iya juga sih, hari mulai gelap sedangkan aku perlu istirahat setelah seharian berjalan, sampailah aku di rumah pak tua.
 “ini rumahnya cukup untuk sekedar berteduh, iya namamu siapa anak muda”,
 “ oh…iya… saya Bayu pak, Bayu sagarakawani” lantas bapak siapa ya? balasku,
“nama bapak Wasman, pangil aja bapak!! mari masuk kedalam, bapak sendiri ini, angap daja rumah sendiri”
“Oh… bapak sendirian disini, keluarga bapak pada kemana?”
Dengan kepala tertunduk bapakpun menjawab “ bapak sebatang kara disini, keluarga bapak telah tewas semua saat gempa bumi”
“maaf pak saya turut berduka”
“sudahlah tidak apa-apa, ayo masuk”  .
Akupun masuk kerumah pak tua yang terbuat dari bilik dan beratapkan helaian daun tebu beralaskan tanah, di sinilah aku melepas lelah.
Sementara itu di rumah aliana selalu berdoa dan berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan  aku kekasihnya, dia terus menunggu kedatangannya dengan cemas dan berharap aku mampu membawakan matahari terbit untuknya.
Aku sedang duduk lusuh diteras rumah pak tua sambil melepas lelah pak tua menghampiriku.
“ sebenernya Bayu untuk apa mencari dan memburu metahari terbit?’’ tanya pak tua dengan penuh heran!!!
“ Semua yang kulakukan untuk aliana kekasihku pak, aku dan aliana selalu menikmati matahari terbit di atas bukit, atupun di tepi pantai, aku ingin membawa matahari terbit itu untuk ku persembahkan pad aliana agar tak usah lagi di naik turun bukit, atu lari kepantai hanya untuk menikmatinya, akan ku pajangkan matahari terbit itu di samping kamarnya, agar kami berdua dapt menikmatinya setiap saat, tanpa harus naik turun bukit atau berlari ke tepi pantai.”
“   saya heran kenapa  karena cinta setiap orang jadi nekat seperti ini, ya… bapak doakan semoga kamu berhasil, sudahlah sekarang bergegaslah ke dalam, besok adalah hari terberatmu” dengan penuh keheranan pak tuapun menyuruh aku untuk bergegas untuk tidur.
Pak tuapun masuk kedalam rumah dan aku mengikuti di belakangnya, aku terbaring di atas ranjang kayu, aku yang hanya berselimutkan sarung mencoba memejamkan mata sambil menghayalkan aku pulang dengan matahari terbit untuk aliana.
Ayam milik pak tuapun bersahutan seakan memberikan pertanda bahwa perang sudah di mulai, aku terbangun dari henyakku, bergegas ku persiapkan diri untuk menuju gunung sembrono.
Sebelum aku berangkat dari rumah pak tua itu, aku di beri beberapa alat untuk membantuku memburu matahari terbit, pak tuapun selempangkan tali padaku, dan dia memberiku sebuah busur beserta anak panahnya dan yang terakhir adalah sebuah tombak.
“mungkin ini bisa membantumu untuk memburu matahari terbit, hanya itu yang bisa bapak berikan untukmu mudah – mudahan bisa bermanfaat untukmu” pak tuapun memberikan segala alat –alat untukku, sambil menepak – nepak pundakku, phuuhkk..phuuhk..phuuhk.
“trimakasih… pak”akupun memeluk tubuk pak tua yang telah membantuku.
“”sudahlah… tak perlu bertrimakasih sekarang bergegaslah kau menuju timur untuk temukan gunung sembrono dan menemukan matahari terbit.
Akupun bergegas pergi dengan peralatan yang di berikan olah pak tua itu, semangatkupun makin bertambah untuk memburu matahari terbit, satu hari aku berjalan melewati jurang dan lembah dan hutan yang lebat, tampa kenal lelah karna aku mempunyai satu semangat yitu semangat cinta dari aliana, dan akhirnya aku tiba di gunung sembrono, namun hari mulai gelap yang memaksaku harus mendaki ekstra keras dalam satu malam aku harus mempu mendaki gunung sembrono, dalam hatiku berkata : Gunung setinggi ini harus ku daki dalam satu malam” akupun menghela nafas huufffff…..” dengan semangt cinta aku akan pulang membawa matahari terbit, aliana aku kan pulang membawanya untukmu.
Dengan semangat cinta akupun mendaki gunung denganberlari meski gelap gulita terasa terang aku tak peduli dan terus berlari, karna aku yang sedikit ceroboh, entah mengapa kaki kiriku menginjak batu yang licin, aku yang baru mendaki sampai tengah gunung, harus rela kembali jatuh terperosok.
Bukh..bukh…bukh…bukh…bukh…aku terjatuh, kulihat kaki kiriku berdarah dan patah.. ku coba obati luka di kakiku dengan semangat cinta yang membara, ku robek bajuku untuk membalut lukaku, ku tahankan rasa sakit yang teramat sakit saatku jatuh, tapi dengan satu semangat cinta aku mulai bangkit kembali, ku raih tombak pemberian dari pak tua yang tak jauh dari tempatku jatuh, untuk membantuku kembali berdiri, entah ada keajaiban apa kakiku yang salah satunya patah, tapi aku bisa berdiri, dengan sisa – sisa semangat yang ku punya akupun mencoba kembali mendaki. “ ahk… pikirku tak mungkin aku bisa mendaki dengan keadaan kakiku yang patah ini, entah mungkin karena kekuatan cinta aku bisa kembali mendaki, kekuatan cinta yang teramat dalam hingga aku mampu untuk melakukan segalanya meski aku tahu keadaan ku yang sedang luluh lantah, kakiku patah, berdarah-darah tapi semangtku masih memerah bagi darah yang keluar dari tubuhku.
Kini aku kembali mendaki gunung sembrono dengan susah payah tapi aku tak kenal lelah, sebentar lagi aku tiba di puncak gunung sembrono, dan aku mulai melihat matahari terbit di puncak gunung sembrono, semangatkupun bertambah membara, karna sesuatu yang aku cari ada di depan mata, aku yang tak mau kehilangan matahari terbit.
Akan tetapi ketika aku sampai di puncak matahari terbit mulai menjauh tak mampu aku meraihnya dengan kedua tanganku, aku meloncat – loncat tapi tetap saja aku tak mampu meraihnya
Akupun kesal ngak kepalang ku lemparkan tombak yang menjadi tongkat untuk membantukuku berjalan pada matahari terbit  , ku lemparkan tombakku.. whuussss….whusssssss  mengenai matahari terbit, kulihat tombakku menancap di tubuh matahari terbit, matahari terbit yang biasanya warnanya putih terang kini berubah warna menjadi merah, itu karena matahari berdarah karna tombakku.
Metahari terbitpun berputar – putar mengitari gunung sembrono, dari sekeliling lembah gunung warga desa melihatku yang sedang berburu matahari terbit, mereka melihat matahari terbit yang berputar – putar mengitari gunung sembrono.
“Pak….. bapak….bapakkkk…pak…. Bapakkkk, coba lihat ke atas gunung, matahri berputar – putar  ada pemuda yang mengambil matahari terbit,…. Mendengar teriakan salah satu warga, semua wargapun keluar rumah menyaksikan aku yang sedang memburu matahari terbit.
Matahari terbitpun  terus mengitari gunung sembrono, dia tak mampu lagi terbang tinggi, saat itulah ku keluarkan busur panah pemberian pak tua , ku ikatkan tali yang berselempang di tubuhku pada anak panah dan ujung tali ku ikatkan pada batang pohon di sampingki, ku arahkan busur panah pada matahari terbit dan ku lepaakan anak panah whuusssss…..whussssss, tepat mengenai matahari terbit,talipun terikat kuat pada pohon dan terhubung langsung pada matahari terbit, semakin garang saja matahari terbit dan kini darah yang keluar dari tubuhnyapun semain banyak kini warnanya berubah orange kekuning- kuningan.
Sementara itu warga yang berada di lembah gunung melihat takjub… karena matahari terbit kini jadi indah karena warnanya berubah, yang tadinya putih bercahaya kini berubah menjadi orange kekuning – kuningan….. “hey… coba lihat itu indah sekali matahari terbit itu kini berubah menjadi lebih indah, merekapun takjub” dan mereka tak tahu sebenarnya warna itu adalah warna darah matahari terbit.
Setelah terikat segera ku raih tali di sampingku yang terikat di batang pohon, ku tarik erat – erat agar matahari terbit dapat mendekat padaku, sekuat tenaga aku  menariknya  agar aku bisa meraihnya, keringatpun basahi sekujur tubuh, dengan semangat cinta akhirnya aku bisa meraihnya.
Setelah matahari terbit di tanganku segera ku lepaskan ikatan tali yang mengikat pada sebatang pohon, ku ikatkan tali itu pada tubuhku, ku bawa pulang matahari terbit itu dengan cara ku gendong menuruni bukit, sementara itu setelah matahari terbit ku gendong untuk di bawa pulang langit berubah menjadi delap gulita karena penerangnya dunia ku bawa pulang untuk aliana.   
Semua penduduk lembahpun panik karena langit berubah menjadi gelap, karena matahari terbit telah ku bawa.
Meski dengan keadaan kakiku yang pincang karena patah, aku menuruni gunung tanpa lelah, tak kurasakan sakitnya kakiku ini karena aku sedang berbahagia karena keinginan untuk alina telah tercapai, tibalah aku di salah satu desa, dan warga desapun melihat aku yang membawa matahari terbit, warga desa yang panik karena takut terjadi apa – apa setelah kejadian matahari terbit berubah warna dan hilang sehingga langit berubah menjadi delap gulita mencoba mengejarku untuk merebut kembali matahari terbit dan akan di lepaskannya lagi agar keadaan kembali seperti semula.
Akupun yang telah bersusah payah memburu matahari terbit tak mau lagi apa yang telah dia bawa terlepas lagi, akupun segera mengambil langkah seribu dengan lariku yang sedikit agak pincang, namun akhirnya aku bisa meloloskan diri dari kejaran warga desa.
Aku berjalan pulang dengan penuh kegembiraan karena takan ada lagi naik turun gunung atu berlari ke pantai untuk melihat matahari terbit, sedangkan kini matahari terbit telah aku dapatkan unutk aliana kekasihku.
Sedangkan di rumah aliana menunggu dengan penuh kegelisahan karena aku sudah seminggu belum pulang juga….. di selalu menatap jauh keluar halaman rumahnya, berharap aku datang dengan selamat… dia terus saja menatap keluar sedangkan aku tak kunjung datang.. saat aliana menghadapkan wajahnya kedalam rumah, dia mendengar terikan sayup – sayup menyebut namanya… aliana….. aliana…. Alina…  terdengar tidak asing suara itu, segeralah dia memalingkan wajahnya keluar rumah, dia melihat aku yang sedang berlari menuju arahnya…
Aliana bergegas menjemputku dengan berlari… kandaaaaaaa… dengan air mata kebahagiannya dia pun memeluk aku.
“ Ini matahari terbit untukmu, sekarang menjadi jauh lebih indah, kau lihat bukan corak warnanya” ku berikan matahari terbit itu pada aliana dan ku ikatkan matahari terbit itu pada batang pohon di samping kamar aliana
“kandaaa…kau hebat sekali” alianapun semakin erat memelukku
“ sekarang tak perlu lagi dinda naik turun bukit atau lari kepantai karena kanda sudah bawakan ini untukmu, kini kita bisa nikmati kapanpun kita mau, dinda percayakan bahwa kanda bener – bener sayang ma dinda….’’ akupun mencium kening aliana
Alinapun hanya bisa tersenyum indah dan kami berdua menikmati mentari terbit di jendela kamar aliana sambil berpelukan erat, tak lupa aku bercerita pada aliana bagaimana aku bisa mendapatkan matahari terbit untuk aliana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar